06 Agustus 2018

Cahaya dalam Kegelapan



Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.
Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, ‘Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, ‘Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’
Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, ‘Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.’
Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul’Alamin. Allah ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, ‘Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’
Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, ‘Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat-Ku.’
Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, ‘Masukkan orang ini ke neraka’.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhd, dan Ibnu Abi Dunya dalam Husn Az-Zhan, dan Al-Baghawi Syrah As-Sunnah)

dulu dari cerita di atas saya heran lho kok bisa ya orang bermaksiat atau yang banyak dosa itu masih bisa merasakan perasaan tawadhu atau percaya pada Allah bahwa Allah masih mengasihaninya, karena dulu saya berfikir bahwa perasaan seperti itu hanya dimiliki hamba yang penuh taat ibadah.

tapi suatu ketika di duniaku yang telah berbeda dengan lingkungan yang dulu lingkungan yang dikelilingi oleh orang-orang saleh, maka benarlah suatu ketika, ketika itu pun datang di mana aku akhirnya bisa lempeng dan luwesnya melakukan beberapa dosa yang dulunya getolll banget aq kumandangkan ke orang-orang kalo itu dosa itu haram dll, seketika itu juga beberapa teman-teman yang dulu tau aq bagaimana langsung memborbardir dengan berbagai nasehat yang kadang cukup menyakitkan terasa bukan seperti nasehat tapi seperti mengejudge bahwa seolah-olah betapa buruknya aq dibanding mereka.

namun mereka tidak tau, tidak akan pernah tau bahwa justru keadaan seperti itu memberikanku pelajaran dan hikmah yang sangat dalam. pernah, ketika aq rajin-rajinnya tahajud, puasa daud, sedekah, menasehati orang, menjaga pandangan, menjaga lisan dan hal-hal soleh lainnya, aq pernah duduk di atas sajadah dan bertanya "wahai Rabbku kenapa, kenapa aku sudah solehah seperti ini Engkau tak jua menjawab doa-doaku, tak jua mengabulkan permohonanku, tak jua menurunkan pertolonganMu, kenapa Rabb?"

dalam keadaan seperti itu bukankah harusnya tingkat keyakinanku pada janji Allah akan tertanam kuat kan? tapi tidak...karena aku merasa sudah soleh aku malah menjadi tidak yakin, menjadi tidak percaya dengan janji janji Allah, menjadi sia-sia dengan apa yang telah aku lakukan...ditingkat ibadahku yang sangat bagus itu...miris....celaka....justru aq dapatkan tingkat kepercayaanku pada Allah jsutru berada pada dasar yang sangat rendah,

suatu ketika aq kecewa lantas aq marah, aq mulai meninggalkan semua itu, merasa ringan tanpa harus bangun tengah malam untuk tahajud, merasa bebas untuk melakukan dosa dosa kecil tanpa merasa bersalah, sudah tidak ingin terlihat soleh lagi dihadapan Allah dan untuk beberapa lama aq berada di keadaan itu. tapi di satu waktu aq menyadari bahwa, entah kenapa, ketika aq duduk di atas sajadah setelah sholat yang aq lakukan dengan setengah2, aq jsutru merasa bahwa Allah akan membawaku kembali, Dia tidak akan meninggalkanku, Dia akan memberi yang aku pinta di waktunya, aq tetiba berubah menjadi optimis, percaya diri, keceriaan yang hilang muncul kembali, padahal aq sedang berada di titik futur yang sangat futur.

barulah aq sadar, ada yang aq lupa ketika aq sedang giat beribadah kepada Allah yaitu ikhlas. ikhlas berarti merendah, tetap merasa hina, dan tidak memaksa kehendak kepada Allah seolah-olah apa yang telah dilakukan udah bener banget bakal diterima.

ketika bergelimang dosa justru hati merendah, merendah bahwa diri sangatlah hina, keadaan merendah itu kemudian tanpa disadari menjadikan ibadah menjadi ikhlas, tidak perduli bagaimana Allah menjawab doa, tapi hati tetap ingin berdoa, tetap ingin kembali.

pencerahan yang terjadi pada diriku sendiri ini membuka mata hatiku dan membuat cara pandangku menilai orang lain menjadi berubah, bahkan dengan ahli dosa sekalipun dan bahkan dengan ahli ibadah sekalipun.

tak ada yang tau dengan pasti, seperti apa isi hati manusia itu, hanya Allah mutlak yang mengetahui seperti apa kebenaran akan kata ikhlas di dalam hati kita.

mari berhenti menjudge seseorang atau berlebihan memberi pujian, sungguh, cahaya bisa kita lihat dengan jelas di dalam kegelapan tapi cahaya akan samar dalam terang benderang.

dan hanya Allah yang dapat memberikan cahaya di dalam hati manusia, bahkan di dalam lubuk hati yang tergelap sekalipun,


Read more...

11 April 2016

Waktu...






bagi yang yakin atau yang tidak yakin,
waktu adalah sebuah jawaban

bagi yang berharap atau yang tidak berharap,
waktu adalah sebuah jawaban

bagi yang bertanya atau yang tidak bertanya,
waktu adalah sebuah jawaban

bagi yang pergi atau yang tidak pergi,
waktu adalah sebuah jawaban

bagi yang mencari atau tidak mencari,
waktu adalah sebuah jawaban

bagi yang menunggu atau tidak menunggu,
waktu adalah sebuah jawaban

bagi yang berjuang atau yang tidak berjuang,
waktu adalah sebuah jawaban

bagi yang merelakan atau yang tidak merelakan,
waktu adalah sebuah jawaban


semua akan terjawab oleh waktu,
waktu yang berlalu membawa kepingan-kepingan takdir,
waktu yang menyusunnya menjadi satu susunan utuh sebuah takdir akhir

hanya waktu yang akan menjawab semuanya...

Read more...

20 Februari 2016

Duhai Hati Bersabarlah,,,


duhai hati bersabarlah,,,disaat Fatimah mengharap Ali untuk datang kepadanya, Fatimah hanya berpegang pada keyakinan bahwa Ali yang akan ditakdirkan Allah untuknya dan bahwa laki-laki lain yang datang sebelum Ali datang hanyalah ujian dari Allah seberapa serius ia akan menunggu dan memilih bahwa Ali adalah pilihan di hatinya.

duhai hati bersabarlah,,,di saat kau tau siapa pilihan yang tepat di hatimu namun tak ada yang bisa kau lakukan selain menunggu dan berdo'a, maka ketahuilah bahwa Fatimah dulu juga melakukan hal seperti itu dalam diamnya tanpa ada yang mengetahui hingga Ali pun akhirnya datang menemuinya.

duhai hati bersabarlah,,,bahwa kau harus yakin bahwa takdir Allah telah ditetapkan 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan, tidak akan pernah tertukar apa-apa yang telah Allah tetapkan pada masing-masing hambaNya.

duhai hati bersabarlah,,,ketika kau mengambil jalan untuk diam dan bersembunyi, menyembunyikan dirimu duhai hati, karena lelah dan ketika itu ia yang kau cintai dan kau pilih masih sibuk dengan segala prasangka di hatinya dan di pikirannya, maka bersabarlah itu berarti Allah belum menggerakkan hatinya.

duhai hati bersabarlah,,,cinta tak harus diumbar, rindu tak harus bertemu, biarlah ia cinta dan rindu itu berpadu pada sebait untaian do'a hingga Allah menampakkan pertolonganNya, sebagaimana garam di lautan dan asam di pegunungan Allah satukan dan pertemukan menjadi bumbu masakan yang lezat.

duhai hati bersabarlah,,,mungkin ia yang kau harapkan tak tau bahwa mencintai dalam diam lebih perih dari sekedar patah hati, bahwa ini bukan persoalan tak perduli, bahwa ini bukan persoalan tak memikirkan tapi ini persoalan keyakinan bahwa apa yang Allah takdirkan untuk kita tak kan pernah menjadi milik orang lain.

duhai hati bersabarlah,,,mungkin ia belum mengerti bahwa ini bukan perihal memberi kesempatan pada yang lain, melepas dengan keikhlasan, tapi ini perihal mempersiapkan diri, memperbaiki diri dan menjaga diri selagi ia belum datang menemui diri.

duhai hati bersabarlah,,,ketika kau tau bahwa tak ada pilihan lain yang kau inginkan selain dirinya, namun ia masih belum ingin bicara yang sebenarnya dan masih sibuk dengan keraguan di hatinya, maka itu berarti memang belum saatnya bagimu dan baginya.

duhai hati, lihatlah, lembayung semakin ungu dan senja semakin temaram,maka waktu akan membawa pada takdir yang dijanjikan Allah padamu.

dan karena itu duhai hatiku, bersabarlah,,,,

Read more...

14 Februari 2016

Senja itu...





hidup adalah tentang pertemuan. entahkah pertemuan itu singgah sejenak di kehidupan kita atau hanya sebatas lewat, tapi yang jelas kita mendapat banyak pelajaran dari pertemuan-pertemuan itu.

teman, tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, tidak ada istilah kebetulan dalam kamus  agama kita. yang ada ialah qodarullaah, semua telah ditetapkan oleh Allah walau hanya sehelai daun yang jatuh ke tanah atau sebutir pasir yang terbang terbawa angin.

ada kalanya dengan pertemuan itu kita dipertemukan dengan orang-orang yang salah, namun anehnya ditakdirkan singgah sementara dalam kehidupan kita. namun ada kalanya kita dipertemukan dengan orang-orang yang benar, namun hanya sebatas lewat. entah apa maksud Allah dengan semua ini namun apapun ketetapan Allah tidak pernah sia-sia.

Allah menghendaki kita mengambil pelajaran dari setiap pertemuan di mana pelajaran itu kemudian menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi.

perputaran waktu telah menghantarkan kita pada masa (jaman) yang berbeda, bahkan dengan sangat cepat waktu berlalu mempertemukan kita dengan orang-orang baru yang mungkin bagi kita asing karena kita terlalu terlena dengan masa yang telah berlalu. ketika sadar kita baru bertanya di jaman apakah kita ini berada, kenapa orang-orangnya seperti tak ada yang kita kenal?

aku, seringkali ketika senja datang, aku menatap lekat senja yang bersahaja itu, aku hanya ingin menyampaikan rasa rinduku terhadap pertemuan-pertemuanku dengan sahabat-sahabatku dulu, sahabat yang bisa menerima keadaanku apa adanya, sahabat yang selalu ada setiap aku butuhkan,  sahabat yang tak pernah mencela kekuranganku, sahabat yang selalu setia menuntunku ke arah yang benar dan sahabat di mana aku tidak takut untuk menjadi diriku sendiri. aku sungguh merindukan masa-masa itu.

kemudian waktu berputar memaksaku harus meninggalkan semua sahabat-sahabatku yang berharga di masa itu dan mempertemukanku dengan orang-orang baru, yang kemudian beberapa dari mereka bisa dijadikan sahabat namun entah kenapa tak bisa sepenuh seperti sahabat-sahabatku yang dulu. mungkin karena aku telah terdampar di masa yang manusianya selalu berhitung, berhitung soal apa saja, termasuk soal persahabatan. pada akhirnya, bagiku, semua ini hanya mengajarkanku untuk menahan diri menjadi diri sendiri meski dengan sahabat-sahabatku sendiri.

wahai senja nan merah, adakah jalan bagiku untuk kembali berkumpul dengan sahabat-sahabatku yang dulu, bercanda, bercerita dan saling menasehati tanpa ada beban dan keterpaksaan...

wahai senja nan merah, adakah kau akan menyampaikan rasa rinduku ini pada sahabat-sahabatku yang telah tersebar entah di mana di bumi Allah...

wahai senja nan merah, masih adakah asa yang tersisa untuk aku dapat bertemu dengan orang-orang seperti sahabat-sahabatku dulu di masa kini...adakah...

dan..biarlah bersama senja ku menyimpan rasa ini...^^

Read more...

12 Februari 2016

Prasangka Buruk




Teman, Khaifa Haluk? dua tahun blog ini tak tersentuh bahkan tak terfikirkan, namun malam ini aku telah berazam untuk menulis kembali, tulisan-tulisan yang sebenarnya lebih kutujukan pada diriku sendiri, menjadi nasehat untuk diri sendiri yang sedang berjuang dalam memperbaiki diri.

dan ini lah hal yang paling ingin kuceritakan sekarang, hal yang paling sering terlintas dalam benakku yaitu prasangka buruk, memprasangkai Rabbku Allah 'azza wa jalla dengan berbagai macam prasangka. mungkin cerita ini dapat menggambarkan betapa diri ini sering terjebak dalam keadaan seperti cerita di bawah ini.

Di sebuah negeri zaman dulu kala, seorang pelayan raja tampak gelisah. Ia bingung kenapa raja tidak pernah adil terhadap dirinya. Hampir tiap hari, secara bergantian, pelayan-pelayan lain dapat hadiah. Mulai dari cincin, kalung, uang emas, hingga perabot antik. Sementara dirinya tidak.

Hanya dalam beberapa bulan, hampir semua pelayan berubah kaya. Ada yang mulai membiasakan diri berpakaian sutera. Ada yang memakai cincin di dua jari manis, kiri dan kanan. Dan, hampir tak seorang pun yang datang ke istana dengan berjalan kaki seperti dulu. Semuanya datang dengan kendaraan. Mulai dari berkuda, hingga dilengkapi dengan kereta dan kusirnya.

Ada perubahan lain. Para pelayan yang sebelumnya betah berlama-lama di istana, mulai pulang cepat. Begitu pun dengan kedatangan yang tidak sepagi dulu. Tampaknya, mereka mulai sibuk dengan urusan masing-masing.

Cuma satu pelayan yang masih miskin. Anehnya, tak ada penjelasan sedikit pun dari raja. Kenapa beliau begitu tega, justru kepada pelayannya yang paling setia. Kalau yang lain mulai enggan mencuci baju dalam raja, si pelayan miskin ini selalu bisa.

Hingga suatu hari, kegelisahannya tak lagi terbendung. "Rajaku yang terhormat!" ucapnya sambil bersimpuh. Sang raja pun mulai memperhatikan. "Saya mau undur diri dari pekerjaan ini," sambungnya tanpa ragu. Tapi, ia tak berani menatap wajah sang raja. Ia mengira, sang raja akan mencacinya, memarahinya, bahkan menghukumnya. Lama ia tunggu.

"Kenapa kamu ingin undur diri, pelayanku?" ucap sang raja kemudian. Si pelayan miskin itu diam. Tapi, ia harus bertarung melawan takutnya. Kapan lagi ia bisa mengeluarkan isi hati yang sudah tak lagi terbendung. "Maafkan saya, raja. Menurut saya, raja sudah tidak adil!" jelas si pelayan, lepas. Dan ia pun pasrah menanti titah baginda raja. Ia yakin, raja akan membunuhnya.

Lama ia menunggu. Tapi, tak sepatah kata pun keluar dari mulut raja. Pelan, si pelayan miskin ini memberanikan diri untuk mendongak. Dan ia pun terkejut. Ternyata, sang raja menangis. Air matanya menitik.

Beberapa hari setelah itu, raja dikabarkan wafat. Seorang kurir istana menyampaikan sepucuk surat ke sang pelayan miskin. Dengan penasaran, ia mulai membaca, "Aku sayang kamu, pelayanku. Aku hanya ingin selalu dekat denganmu. Aku tak ingin ada penghalang antara kita. Tapi, kalau kau terjemahkan cintaku dalam bentuk benda, kuserahkan separuh istanaku untukmu. Ambillah. Itulah wujud sebagian kecil sayangku atas kesetiaan dan ketaatanmu."

beberapa bulan yang lalu, ketika aku berjumpa dengan salah satu sahabatku, dia memberiku nasehat untuk berhenti bertanya kenapa Allah memberikan takdir ini dan takdir itu pada kita. karena sebenarnya pertanyaan kenapa itu cenderung seperti sedang berprasangka buruk pada Allah dalam menetapkan takdir kepada kita.

kita sungguh makhluk yang lemah dan kurang bersabar. kita selalu ingin cepat tau kenapa Allah mentakdirkan hal seperti ini dan seperti itu kepada kita. padahal, dengan kesabaran dan berjalannya waktu hikmah itu akan terlihat dengan sendirinya dan entah kenapa hal-hal yang dulu kita tangisi, kita sesali justru berbalik menjadi hal yang sangat kita syukuri. karena itulah hikmah.


Rasulullah Sallallahu'alaihi wassalam bersabda : 

“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi) 

teman, untuk dapat melihat hikmah ini tak ada hal yang dapat kita lakukan selain bersabar dan bertakwa. laluilah waktu yang amat sangat sebentar ini dengan sabar dan takwa agar hikmah menghampiri kita dan Allah bukakan tabir apa yang sebenarnya Allah kehendaki pada kita. 

berprasangka baiklah pada Allah, tidak akan pernah merugi orang yang selalu berprasangka baik pada Allah, sesungguhnya janji Allah adalah benar. 
kita hanya harus yakin dan sabar hingga saat yang Allah janjikan itu datang, untuk urusan apapun. 

yakinlah.....sesungguhnya Allah tidak pernah main-main dengan janjiNya :)

Read more...

18 September 2014

Hujan Fitnah


Rasulullah Sallallahu'alaihiwassalam menaiki salah satu bangunan tinggi di Madinah, 
kemudian beliau bersabda: Apakah kalian melihat apa yang aku lihat? 
Sesungguhnya aku melihat tempat-tempat terjadinya fitnah di antara rumah-rumahmu 
bagaikan tempat turunnya air hujan. (Shahih Muslim No.5135)

teman, sepertinya apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Sallallahu'alaihiwassalam telah terjadi pada jaman ini, aku menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang di sekitar aku berada baik lingkungan kerja atau lingkungan pergaulan, di mana fitnah-fitnah telah melanda umat ini. aku menyaksikan bagaimana seseorang di pagi hari bersikap baik tanpa cela kepada sesama manusia namun di malam hari mereka berzina. bagaimana seseorang sholat di masjid namun dia memakan harta haram yang bukan miliknya, memakan tanpa ragu dengan rakusnya. sholat hanya seonggok rutinitas tanpa makna, sholatnya sudah tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

dan aku sendiri teman bagaimana aku mengalami pelecehan dan penghinaan atas jilbab yang aku kenakan, atas prinsip yang aku jalankan, mereka menghina para muslimah namun memuja para wanita kafir, menyanjung-nyanjung wanita yang terang-terangan bermaksiat, mengatakan bahwa wanita seperti inilah yang patut dijadikan contoh. astaghfirullaah al'adziim,,,,fitnah dunia semakin menjadi-jadi menyesakkan dada dan menjadikan hati menjadi sedih, sedih sesedihnya, menyaksikan mereka yang mengaku muslim melakukan berbagai kemaksiatan namun ketika ketika menasehati kita ditertawakan dijadikan bulan-bulanan dan dicap dengan tuduhan yang menyakitkan.

aku mengalami ini semua teman, saat ini, di lingkungan aku berada kini, hanya Allah pelindungku, aku berlindung kepada Allah dari semua fitnah dunia, aku berlindung kepada Allah dari semua keburukan yang ditimbukan dari fitnah tersebut.

Rasulullah Sallallahu'alaihiwassalam bersabda: Akan terjadi fitnah di mana orang yang duduk (menghindar dari fitnah itu) lebih baik daripada yang berdiri dan orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan dan orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari (yang terlibat dalam fitnah). Orang yang mendekatinya akan dibinasakan. Barang siapa yang mendapatkan tempat berlindung darinya, hendaklah ia berlindung. (Shahih Muslim No.5136)

Ya Allah berikanlah selalu hidayah dan cahaya keimanan di dalam hati kami,,teguhkanlah kami di atas agamaMu yang lurus,,kepadaMu lah kami menyembah dan kepadaMu lah kami bertakwa,,,kasihanilah kami Ya Allah dan berilah RahmatMu kepada kami,,Allahumma aamiin Ya Robbal'aalamiin

Read more...

16 Juni 2014

Sebuah Kemenangan



Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia,
akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati
(HR. Bukhori)

teman, orang yang bersyukur, orang yang qona'ah, orang yang beristiqomah, merekalah orang-orang yang telah mendapat sebuah kemenangan. lihatlah saat ini teman, betapa banyak manusia selalu merasa miskin di dalam hatinya, mereka menjadi rakus, urat malu mereka telah putus, agamapun digadaikan hanya demi seoonggok dunia yang ingin didapatkan dengan instan, meninggalkan sholat hanya untuk bisa cepat2 kaya, bisa cepat2 punya mobil, rumah, dsb, dan taukah engkau teman, bahkan sebagian dari mereka yang seperti ini, dulunya adalah orang yang paling kencang menyuarakan tawadhu', menyuarakan apa itu halal apa itu haram, tapi lihatlah bagaimana hanya demi seonggok dunia dan keinginan untuk dianggap manusia lainnya mereka akhirnya dengan sadar menggadaikan agama mereka.

tapi teman,bagaikan uban di tubuh sapi,ada segelintir hamba Allah yang di dalam hatinya penuh rasa syukur dengan apapun yang Allah berikan, mereka tersenyum meskipun pekerjaan mereka bukan pekerjaan yang elit di mata manusia,tapi ketika adzan bergema, mereka bergegas menuju rumah Allah, melepas semua urusan dunia, menghadap Rabbnya, sungguh sudah sangat sedikit sekali yang seperti ini.

ketika para penjual agama itu hidup dalam kekayaannya yang tidak berkah dan kemudian ditimpa satu persatu musibah oleh Allah, maka para hamba Allah yang bersyukur saat itulah mereka mendapat kemenangan, Allah jauhkan mereka dari segala macam marabahaya, Allah tampakkan itu pada raut wajah mereka yang bercahaya dan selalu terlihat seperti tersenyum. sungguh teman, wajah seperti ini tidak akan pernah kita dapatkan kecuali kita memiliki hati yang bersih dan penuh rasa syukur kepada Allah.betapa menyenangkan dan menyejukkan hati wajah-wajah seperti ini. 

orang yang bersyukur kepada Allah dia tidak akan menghitung-hitung kekayaan orang lain kemudian dia bandingkan dengan miliknya, dia tidak akan masuk dalam jebakan perlombaan bermegah-megahan soal dunia. tidak ada beban dalam hidupnya karena begitu tentram hatinya dengan rasa syukur. itu lah sebuah kemenangan. sebuah kemenangan dari Allah bagi hambaNya yang senantiasa bersyukur, Allah selalu menambahkan nikmat padanya bukan hanya berupa harta tapi nikmat iman yang tiada tara.

wah,,,hawa bulan Ramadhan udah terasa ya teman,,,hembusan angin terasa lebih sejuk,,,hati juga terasa lebih tentram,,subhanallah,,

Ramadhan,,,Ramadhan,,,cepatlah Engkau datang,,,Ya Allah sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan Ya Allah,,,sampaikanlah kami pada kemenangan yang telah Engkau janjikan Rabb,,,

Allahumma aamiin,,aamiin,,Ya Robbal'alamiin,,,

Read more...

25 Februari 2014

Lihatlah dia,,Nabi Kesayangan Allah,,Nabi Ayyub 'Alaihissalam


ah teman,,sudah lama meninggalkan blog ini,,,rasanya gelisah juga bila kita mengalami sesuatu dan ada hikmahnya namun belum bisa berbagi dengan yang lain melalui blog ini.

teman, aku sangat menyadari masa sulit sedang kita alami sebagai seorang mukmin, banyak hal yang terjadi, ftnah-fitnah yang terjadi bagai air hujan yang sangat deras, mengguncang hati, perasaan dan pikiran. banyak air mata tumpah, tapi inilah qadarullah (ketetapan Allah) yang harus kita jalani sebagai kehendak Allah akan pertanda dekatnya hari kiamat.

rasanya memang sedih melihat saudara-saudara kita sesama muslim terutama keluarga dan sahabat-sahabat kita sendiri datang bercerita dengan berbagai musibah yang dialami, dan kitapun tidak luput mengalami itu semua, cobaan yang sangat mengguncang hati, air mata tak terbendung lagi, kemana lagi kita akan lari, kemana kita akan mengadu jika bukan pada Tuhan kita Rabb semesta Alam, Allah 'azza wa jalla.

tapi teman, diamlah sejenak, tenangkan diri sejenak, ingatlah akan satu sosok kesayangan Allah Nabi Ayyub 'Alaihissalam, ingatlah bagaimana beliau ketika dicoba, segala cobaan tertimpa pada beliau, kekayaan yang diambil, anak-anak beliau meninggal dunia, istri-istri beliau meninggalkan beliau kecuali satu istrinya yang bernama Rahma, badan beliau berkudis, ulat-ulat memakan daging beliau hingga tersisa tulang-belulang, selama 18 tahun beliau tidak mengeluh, ikhlas, bersabar, berprasangka baik pada Allah, sungguh teman, berlinang air mata ini bila ingat kesusahan yang dialami Nabi Ayyub 'Alaihissalam.

Sungguh teman, betapa tiba-tiba terasa ringan cobaan yang aku alami ketika aku mengingat cobaan yang dialami Nabi Ayyub 'Alaihissalam, dalam linangan air mata masih ada senyuman karena menyadari betapa tidak berarti cobaan yang kita alami dibanding cobaan yang dialami Nabi Ayyub 'Alaihissalam. bila beliau dengan beban seberat itu di hatinya masih sangat mencintai Allah, lalu bagaimana dengan diri ini, yang tidak sebanding dengan beliau, kenapa begitu cepatnya diri ini membuat kesimpulan, berprasangka buruk pada Rabb yang maha penyanyang, mengeluh tiada habisnya,,,,

teman, yakinlah, disuatu waktu yang telah Allah tetapkan, sebagaimana telah Allah tetapkan pada Nabi Ayyub 'Alahissalam setelah 18 tahun menanggung cobaan, maka waktu itu akan datang juga kepada kita, waktu di mana pertolongan Allah akan datang, yakinlah, yakinlah, yakinlah pertolongan Allah akan datang.

bersabarlah teman dengan segala yang terjadi pada hidup ini, tidak seberapa lama kita akan hidup, kita pasti akan kembali ke Rabb kita, bersabarlah dengan hidup yang pendek dan terbatas ini, bersabarlah dengan hidup yang hanya sekali ini.

Allah bersama kita, memperhatikan kita, tidak pernah meninggalkan kita sedetikpun, maka teman jalanilah hidup ini dengan senyuman yang penuh ketenangan, wajah yang penuh kedamaian, hati yang dipenuhi kerinduan akan akhirat, ikhlaskan diri hanya karena Allah. Allah pasti membantu semua kesulitan kita.

bukankah badai pasti berlalu dan ada pelangi setelah hujan,,??? ^^

Read more...

29 September 2013

Al Khair Khairutullah



Al Khair Khairutullaah, Pilihan Allah adalah yang terbaik.
terima kasih Ya Allah telah mengingatkanku akan hal ini lewat kejadian demi kejadian, pertemuan demi pertemuan yang akhirnya menjadi nasehat dan pembelajaran berharga, sungguh Rabb,,semua tak ada yang sia-sia

teman, menjadi tempat curhat banyak orang, mendengarkan masalah banyak orang dan bertemu dengan banyak orang tidak melulu menjadi sesuatu yang sia-sia. tapi justru kejadian-kejadian yang kita alami sendiri dan berhubungan dengan orang lain atau kejadian-kejadian yang orang lain alami kemudian diceritakan ke kita merupakan sebuah nasehat dan pembelajaran yang sangat sangat berharga bagi diri kita, hidup kita dan agama kita.

lewat hal-hal seperti inilah Allah menyampaikan hikmahnya dan menegaskan bahwa Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik, penuh kebaikan, dan pasti adalah yang terbaik di antara yang terbaik.

teman, kadang kadang ujian demi ujian, musibah demi musibah yang di alami oleh seseorang, kadang dia rasakan bertubi-tubi tapi rupanya itu semua berakhir dengan Anugerah dari Allah yang luar biasa yang merupakan pilihan terbaik dari Allah. tapi teman semua ini hanya berlaku bagi hambaNya yang sabar dan ikhlas menjalani apa yang telah menjadi ketentuan Allah.

ending dari setiap musibah dan ujian yang dialami seorang hamba yang sabar adalah berupa anugerah yang tak terhingga, itu adalah janji dan hadiah dari Allah. 

bersabarlah dalam banyak hal dalam hidup ini teman,jangan ingin cepat kaya lalu menjual agama, jangan ingin mengejar eksistensi diri agar dikenal dan disanjung manusia lalu menjual akidah, janganlah mencari cari sesuatu yang ingin serba cepat dengan melanggar aturan Allah. berusahalah semampu kita untuk selalu bertawakal kepada Allah dan berjalan di atas agamaNya yang lurus.

mungkin cerita ini bisa jadi pembelajaran berharga bagi kita walaupun kebenaran cerita ini belum diketahui shahihnya namun kita bisa memetik pelajaran berharga dari cerita ini bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik.

suatu masa, ada seorang raja yang sangat menyayangi rakyatnya, setiap rakyatnya mendapat musibah dia selalu mengatakan Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik, sehingga menjadi lapanglah hati rakyatnya mendengar hal ini.

suatu hari sang raja mendapat musibah jari tangannya putus, lalu ia mengadu kepada salah seorang menteri kesayangannya, dan menteri tersebut mengatakan kepada raja hal yang biasa ia katakan pada rakyatnya, Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik.

mendengar hal ini sang raja murka dan memenjarakan perdana menteri tadi.

suatu hari raja bersama pasukannya pergi berburu dan mereka tersesat jauh di dalam hutan dan tertangkap sekelompok penyembah roh.

satu persatu pasukan raja di sembelih untuk di persembahkan ke dewa penyembah roh tadi hingga tiba giliran araja mereka melihat jari raja yang terputus sehingga mereka tidak jadi menyembelih raja karena dianggap cacat. akhirnya raja selamat dan kembali ke istananya.

raja segera membebaskan menteri yang ia penjarakan tadi dan berkata benar apa yang engkau bilang wahai menteri Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik, lalu ia menceritakan apa yang terjadi pada menteri tadi.

dan sang raja bertanya pada menteri lalu apakah penjara bagimu adalah yang terbaik pilihan Allah? sang menteri menjawab benar wahai raja, Al Khair Khairutullah, pilihan Allah adalah yang terbaik.

sang raja  bertanya apa hikmahnya bagimu wahai menteri?

menteri menjawab seandainya saya tidak masuk penjara tentunya saya akan ikut bersama raja berburu dan tentunya saya sudah disembelih bersama pasukan lainnya. namun Allah menyelematkan saya dengan memasukkan saya ke penjara.

begitulah teman, apa yang tampak pahit di mata manusia, ternyata penuh kebaikan di hadapan Allah dan ternyata berakhir kebahagiaan tiada terkira menjadi anugerah yang begitu berharga.

mungkin benar juga syair dari negara korea berikut ini:
seorang petani tidak akan menyalahkan sawahnya
seorang musisi tidak akan menyalahkan alat musiknya

itu semua adalah bagaimana cara kita memandang suatu masalah, bagaimana cara kita memandang suatu hal.

teori memang tak semudah praktek teman,,,,tapi,,,apa salahnya mencoba,,ya ga,,,;>

(terinsipirasi dari ceramah ustadz Firanda, MA, semoga Allah memuliakan beliau)

Read more...

07 Agustus 2013

Raudhah



Burung-burung berdzikir di sangkar Raudhah
Menyambut adzan di tabir senja
Dua insan berkasih karena Allah
Bertemu, berpisah dan bertemu kembali karena Cinta-Nya

Semoga telah sampai masanya bagi kita untuk meluahkan segalanya
bersatu di taman Raudhah mengharap keridhoan Allah semata.

(  1 Syawal 1434 H )

Read more...

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP